Minggu, 26 Februari 2012

batik juwana klasik

Motif ini motif klasik/ kuna, para pembatik menyebutnya motif... gunung-gunungan. Sudah jarang sekali di buat. Hanya kali ini motif gunungan diciptakan kembali.
Dulunya motif ini sering dipakai ibu-ibu untuk pertemuan-pertemuan. Pernikahan, acara sunatan, beribadah.

Bahan primis, panjang 2,10x1,06
hanya ada 1 siap di kirim
warna klasik Bakaran
harga 425.000

hubungi 085310738945

Senin, 11 April 2011

Minggu, 07 November 2010


AKAR BUDAYA BATIK BAKARAN
Bakaran adalah sebuah desa yang ada di kecamatan Juwana kabupaten Pati. Desa ini ada 2 yakni Bakaran Wetan dan Bakaran Kulon. Saat ini, desa Bakaran mampu menjadi ikon Pati yaitu dengan karya budaya masyarakat. Banyak budaya ditemukan di Juwana, terutama didaerah ini, sehingga masyarakat  menjulikinya daerah seni budaya. Salah satu karya budaya masyarakat yang mampu menjadi perhatian masyarakat luas adalah karya batik tulisnya.
Karya batik ini juga mampu mengangkat citra daerah. Seni batik bakaran ini berjalan sejak zaman majapahit yaitu antara abad 14 sampai sekarang. Dan sampai saat ini corak batik bakaran sangat khas dan unik yang motifnya sangat berbeda dengan batik-batik lain walaupun asal mulanya dari budaya batik yang sama yaitu budaya keraton. Hal ini disebabkan karena sudah terjadi perpaduan kebudayaan pedalaman dan pesisir yang akhirnya karya masyarakat ini sangat unik.
MOTIF BATIK TULIS BAKARAN BERDASARKAN GEOGRAFIS DAN FILOSOFis. Motif batik tulis Bakaran bila dilihat dari segi warna mempunyai mempunyai ciri tersendiri, yaitu warna yang mendominasi batik Bakaran Wetan adalah hitam dan coklat. Unsur corak/motifnya beraliran pada corak motif batik Tengahan dan bathik Pesisir. Aliran Tengahan, karena yang memperkenalkan batik tulis pada wilayah Desa Bakaran adalah dari kalangan kerajaan Majapahit. Dan Jenis motif tengahan ini diindikasikan pada corak batik.
Sejarah Masyarakat
Keterampilan membatik tulis bakaran di Desa Bakaran Wetan itu punya sejarah yang melegenda. Keterampilan itu tak lepas dari buah didikan Nyi Banoewati, penjaga museum pusaka dan pembuat seragam prajurit pada akhir Kerajaan Majapahit abad ke-14.
Waktu itu, Kerajaan Majapahit diambang keruntuhannya karena wilayahnya sudah hampir dikuasahi oleh kerajaan Islam Demak Bintoro. Nyai Banoewati adalah salah seorang abdi dalem yang sudah memeluk agama Islam. Yang saat itu warga keraton sangat melarang keras warganya untuk beragama Islam. Akhirnya Sang abdi dalem ini ketahuan dan melarikan untuk menyelamatkan diri dari hukuman raja dan sergapan prajurit.
Nyi Banoewati bersama tiga saudaranya, yaitu Ki Dukut, Ki Truno, dan Ki Dalang Becak, perempuan yang konon berparas ayu itu pergi menyusuri pantai utara Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, Nyi Banoewati dan dua saudaranya berpisah dengan Ki Dalang Becak. Ia melanjutkan perjalanan hingga ke kawasan rawa-rawa yang penuh pohon druju atau sejenis semak berduri, sedang Ki Dalang Becak menetap di Tuban.
Bersama Ki Dukut, Nyi Banoewati membuka lahan di daerah rawa-rawa itu sebagai tempat tiras pandelikan atau tempat persembunyian. Lantaran Ki Dukut itu seorang lelaki, ia mampu membuka lahan yang sangat luas, sedangkan lahan Nyi Banoewati sempit.
Tak kurang akal, Nyi Banoewati mengadakan perjanjian dengan Ki Dukut. Ia meminta sebagian lahan Ki Dukut dengan cara menentukan batas lahan melalui debu hasil bakaran yang terjatuh di jarak terjauh.
Ki Dukut menyetujui usulan itu. Jadilah kawasan Nyi Banoewati lebih luas sehingga sebagian kawasan diberikan kepada Kek Truno yang tidak mau babat alas. Daerah milik Nyi Banoewati dinamai Bakaran Wetan, sedang milik Kek Truno bernama Bakaran Kulon.
Adapun Ki Dukut yang kawasannya sangat sempit itu menamakan daerah itu Pedukuhan Alit atau Dukutalit. Ketiga desa itu sampai sekarang tetap ada dan saling berbatasan satu dengan yang lain. Secara lebih luas lagi, kawasan itu dikenal sebagai Drujuwana (hutan druju) atau Juwana.
Di Bakaran Wetan itulah Nyi Danowati membangun permukiman baru. Sejumlah warga yang semula tidak mau menempati daerah berawa-rawa itu mulai tertarik membangun permukiman di sekitar rumah Nyi Banoewati.
Nyi Banoewati / Nyai Ageng Siti Sabirah (begitu masyarakat menyebutnya) mendirikan masjid tanpa mihrab supaya tidak diketahui prajurit Majapahit yang disebut Sigit. Di pendopo dan pelataran Sigit itulah Nyi Danowati melaksanakan aktifitas agamanya dan mengajar warga membatik., motif batik yang diajarkan Nyi Banoewati adalah motif batik Majapahit. Misalnya, sekar jagat, padas gempal, magel ati, dan limaran.
”Motif khusus yang diciptakan Nyi Baneowati sendiri adalah motif gandrung. Motif itu terinspirasi dari pertemuan dengan Joko Pakuwon, kekasihnya, di tiras pandelikan,” katanya.
Waktu itu Joko Pakuwon berhasil menemukan Nyi Banoewati. Kedatangan Joko Pakuwon membuat Nyi Banoewati yang sedang membatik melonjak gembira sehingga secara tidak sengaja tangan Nyi Banoewati mencoret kain batik dengan canting berisi malam, yang memang saat itu aktifitasnya disibukkan dengan membatik.
Coretan itu membentuk motif garis-garis pendek. Di sela-sela waktunya, Nyi Banoewati menyempurnakan garis-garis itu menjadi motif garis silang yang melambangkan kegandrungan atau kerinduan yang tidak terobati.
motif-motif khas itu perlu mendapat perlakuan khusus dalam pewarnaan. Pewarnanya pun harus menggunakan bahan-bahan alami. Misalnya, kulit pohon tingi yang menghasilkan warna coklat, kayu tegoran warna kuning, dan akar kudu warna sawo matang.
Sayangnya, bahan-bahan pewarna itu sudah sulit ditemui. Waktu itu, batik bakaran menjadi komoditas perdagangan antarpulau melalui Pelabuhan Juwana dan menjadi tren pakaian para pejabat Kawedanan Juwana. Meskipun kesulitan bahan pewarna, batik tulis bakaran banyak peminat. Saat ini warga Bakaran selain melestarikan motif Nyi Banoewati, mereka juga mengembangkan aneka macam motif kontemporer, antara lain motif pohon druju (juwana), gelombang cinta, kedele kecer, jambu alas, dan blebak urang.
Ada beberapa proses, dan teknik dalam pembuatan batik bakaran, yakni mulai dari nggirah, nyimplong, ngering, nerusi, nembok, medel, nyolet, mbironi, nyogo, dan nglorod. Proses ini bertahap mulai tahap pertama sampai terakhir. Bila sudah selesai maka corak batik sudah bisa dinikmati. Tahapan-tahapan tersebut dikerjakan perajin secara manual tanpa ada alat-alat baru seperti cap, printing, sablon dsb.






“ BATIK YUWANA “
BATIK TULIS BAKARAN PATI
(sebuah corak budaya pesisir)

Batik bakaran ini sudah eksis sejak zaman Majapahit pada abad 14 m yang lalu. Ceritanya, seni tangan ini dikembangkan oleh sang abdi dalem dari keraton yang bertugas merawat gedung pusaka yang mempunyai keahlian membatik untuk keperluan gedung pusaka itu. ”Banoewati” adalah nama dari sang abdi dalem tersebut.

Sang abdi ini bersama ketiga bersaudara (ki dalang, kidukut, ki truno) melarikan menyelamatkan diri menyusuri pantai utara kearah barat atas desakan raja dan prajuri karena saat itu seluruh warga keraton Majapahit dilarang memeluk Islam.  Dalam pelarian ini sampailah pada suatu daerah, yakni Juwana tepatnaya didesa Bakaran. Didesa inilah nyii Banoewati atau nyai Sabirah - warga setempat menyebutnya - tinggal dan mengembangkan keahlian membatiknya. Sehingga sampai pada saat ini batik berkembang dibakaran dan sebagai ikon Pati.

Add caption
Batik bakaran sudah terpatenkan
Batik ini merupakan wujud ekspresi masyarakat pesisir pati. Sehingga corak motifnya memperlihatkan karakter masyarakat. Tergolong ada 2 jenis motif batik bakaran, yakni motif klassik dan motif terkini/ modern. Motif klassik adalah batik yang motifnya abstrak dan berupa simbol-simbol yang mempunyai cerita unik dalam pembuatannya. Batik klassiknya bakaran adalah berwarna antara hitam, putih dan cokelat.
Yang kedua motif modern yang ciri khasnya adalah motif aktual berupa bunga, ikan,air, pohon  dsb, yang warnanya bervariasi yang merupakan hasil inovasi masyarakat. Yang menjadi khasnya lagi batik bakaran adalah motif “retak atau remek”. Batik ini teknik perajinannya adalah sangat tradisional sekali, diantara teknik dan prosesnya adalah nggirah, nyimplong, ngering, nerusi, nembok, medel, mbironi, nyogo, dan nglorod.

Sekarang ini batik bakaran sudah ada yang dipatenkan oleh Ditjen HAKI sebagi motif batik milik pati. Terhitung semuanya berjumlah 17 motif yang terpatenkan. Ke17 motif itu semuanya adalah motif klassik. Diantaranya adalah, motif blebak kopik, rawan, liris, kopi pecah, truntum, gringsing, sidomukti, sidorukun, dan limaran, dan lain sebagainya.

”Batik Yuwana”
Melayani motif yang tersedia, motif klassik dan terkini.
Kualitas terjamin, seni tinggi, menerima pesanan, desain, memberikan pelatihan, menerima konsultasi perbatikan, memberikan informasi, dan lain-lain. Bila bapak, ibu, saudara semua , pecinta dan penikmat batik ingin mencari info, silahkan datang ke  CENTRA : DS. BAKARAN WETAN DAN BAKARAN KULON JUWANA PATI / kontak, “batik yuwana”.

Kontak : irham.yuwanamu@gmail.com , / Hp. : 085310738945 (Irham)
 (fb: batik tulis bakaran juwana  :      batikcanting.mbakaran@gmail.com)             



Senin, 08 Februari 2010

motif klassik, bernilai sejarah,semua motif ada ceritany tersendiri


Batik Pati, batik pesisiran
sekilas batik bakaran
Pulau Jawa mempunyai daerah-daerah penghasil batik mulai dari ujung timur sampai ujung barat. Model batiknya tergolong dua jenis yaitu model batik pesisiran dan pedalaman. Adapun yang membedakannya antara batik tulis pesisiran dan pedalaman adalah menurut pola, motif, corak, dan warna. Pati adalah daerah yang berada di Jawa tengah yang sekarang ini masih menghasilkan batik yang tergolong pesisiran ini. Tepatnya daerah yang menghasilkan kerajinan tangan ini adalah desa Bakaran kecamatan Juwana. Sebuah desa yang sudah basis masyarakatnya sebagai perajin. Keberadaan batik ini ternyata sudah lama menurut sejarah mulai sejak zaman Majapahit.
Asal mulanya, menurut cerita yang ada, batik Bakaran dibawa oleh sang punggawa/ abdi dalem keraton pada masa kejayaan Majapahit yang mempunyai keahlian batik. Sang punggawa tersebut adalah nyai Danowati (ada yang menyebut Banoewati), bertugas merawat gedung pusaka. Berbagai motif batik dibuatnya untuk menghiasi di gedung pusaka ini. Seiring keruntuhan kerajaan Majapahit sekitar tahun 1478 M untuk menyelamatkan dirinya punggawa melarikan diri. Menurut tutur masyarakat pungawa melarikan diri besama dua saudaranya yang semuanya berjumlah 3 orang yakni Ki dalang, Nyai danowati/ Sabirah, dan Ki Truno. Pada akhirnya mereka sampai didaerah Bakaran ini dan bertempat tinggal didesa itu. Sampai didesa ini dia bergaul pada masyarakat sekitar dan menjadi tokoh/ elite yang kala itu disebut nyai ageng. Bersaman dengan ini, Nyai Ageng memberikan ketrampilannya batik kepada masyarakat Bakaran. Sehingga sampai sekarang ini warga Bakaran dan sekitar mempunyai kerajinan ini. Untuk membuat batik ini ada beberapa teknik yang harus dilalui diantaranya yaitu, mola, nggirah, nyimplong, ngering, nerusi, nembok, medel, mbironi, nyogo dan nglorod.